Artikel

Kuliah? Inilah yang Harus Diperhatikan Mahasiswa Baru

BALIKPAPAN – Kuliah itu bebas, dalam arti tak sama seperti saat masih SMA dulu yang mengatur sekali. Tapi kuliah bukan berarti santai-santai saja, malah justru lebih banyak tanggung jawabnya. Meski sudah tak berseragam SMA lagi, dunia kuliah menuntut agar lebih mandiri mengatur waktu, antara urusan ego diri sendiri, keluarga, pekerjaan bagi yang sudah bekerja, dan kuliah itu sendiri. Ada hak dan kewajiban yang bertambah besar dibanding saat SMA.

Di kelas pun, ada beberapa dosen yang membebaskan untuk keluar kelas jika sudah tidak bisa menikmati dan mengikuti suatu mata kuliah. Semua itu mendidik mahasiswa untuk belajar mengatur cara belajarnya sendiri.

Pada akhirnya pilihan berikutnya hanya ada dua, cepat lulus sarjana atau lama?

Asal tahu saja, untuk lulus Sarjana ada yang cukup 3,5 tahun saja, wajarnya 4 tahun, kadang ada yang 5 tahun, 6 tahun, dan batas paling lama adalah 7 tahun. Lebih dari 7 tahun biasanya drop-out alias DO.

Ilustrasi. Belajar di Perguruan Tinggi. blogspot.com

Selamat datang di dunia kuliah. Di mana pilihan klasik antara mau lulus cepat atau lambat selalu muncul. Dan pada saat proses perjalanan kuliah itulah godaan selalu muncul. Mulai dari godaan bergaul seluas-luasnya, berorganisasi, sampai mencari pacar. Semua itu bisa memengaruhi keseriusan mahasiswa menyelesaikan kuliah. Tapi, tak sedikit juga dengan kegiatan yang segudang, seorang mahasiswa bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu.

Intinya, kuliah memberi kesempatan belajar pada mahasiswa apakah mampu mengelola dirinya sendiri atau tidak. Semua berpulang pada mahasiswa tersebut.

Tak ada tinggal kelas

Pertama kali kuliah, pastinya ada semacam paket mata kuliah yang harus diambil di semester awal. Jumlahnya ditentukan oleh Satuan Kredit Semester (SKS) yang masing-masing memiliki bobot 1 SKS sampai 6 SKS, tergantung mata kuliah itu sendiri. Makin banyak mengambil mata kuliah, makin besar beban yang harus diselesaikan tiap semester, dan jika lancar dari semester awal sampai akhir berarti makin cepat lulus sarjana.

Mata kuliah yang didapat ketika awal semester biasanya juga merupakan mata kuliah dasar. Biasanya pada semester awal, jumlah SKS sudah ditentukan secara mutlak paket. Umumnya jumlah SKS yang harus diambil di semester awal antara 18 sampai 22 SKS.

Yang harus diwaspadai adalah mata kuliah-mata kuliah itu merupakan syarat untuk melanjutkan ke mata kuliah berikutnya. Jadi jika tidak mengambil mata kuliah dasar atau yang menjadi prasyarat, maka belum boleh mengikuti mata kuliah lanjutannya.

Serunya, tidak ada istilah tinggal kelas dalam dunia kuliah, karena yang dinilai adalah tuntas menyelesaikan setiap mata kuliah. Ini berarti setiap mahasiswa pasti bisa naik ke semester berikutnya, tapi belum tentu dengan predikat lulus di tiap mata kuliah. Jadi, walaupun sudah ada di semester tinggi, tapi harus mengulang mata kuliah yang belum lulus. Tak heran kalau nanti kuliah di kelas akan dijumpai senior yang sekelas bersama para mahasiswa baru.

Penilaian Kelulusan

Penilaian ini memiliki kriteria yang ditetapkan oleh Dikti Kemdikbud RI, yaitu berupa huruf A, B, C, D, dan E. Masing-masing nilai memiliki bobot, A berbobot 4, B berbobot 3, C berbobot 2, dan D bobotnya 1, dan E nol dan wajib mengulang semester berikutnya. Kadang, nilai D pun udah bisa membuat mahasiswa harus mengulang untuk program studi tertentu, misal di prodi Manajemen Informatika (D3) disini. Sehingga jika mendapatkan nilai C, rasanya sangat pas-pasan banget.

Selain kriteria tersebut, adakalanya perguruan tinggi memiliki nilai khusus seperti T dan K. Nilai khusus ini bersifat sementara, nilai T berarti tidak lengkap, biasanya mahasiswa diberi waktu untuk melengkapi nilai oleh dosennya sebelum semester berakhir atau sesuai kebijakan kampus. Begitu semester berakhir, jika T tidak diselesaikan oleh mahasiswanya, maka dosen akan memutuskan nilai akhir apa adanya, kadang bisa jadi E karena jumlah nilainya sangat kurang. Sedang nilai K menandakan mahasiswa kurang atau tidak pernah mengikuti aktivitas kuliah sama sekali dan dianggap mengundurkan diri.

Penghitungan akhirnya adalah seperti ini. Misalnya, mata kuliah Pengantar Ekonomi memiliki bobot 2 SKS. Jika mendapat B, berati yang nilai akhir berbobot 2 x 3 adalah 6. Itu baru satu mata kuliah. Untuk hasil akhir semester, muncul yang namanya IPS atau Indeks Prestasi Semester. Rumusnya adalah jumlah skor keseluruhan dari tiap mata kuliah dibagi jumlah SKS yang diambil.

Indeks Prestasi (IP) tertinggi adalah 4,00, sementara nilai terendah 0,00. Dari sini lahirlah istilah becandaan, Nasakom (Nilai Satu Koma). Biasanya istilah ini digunakan untuk “mengolok” mahasiswa yang skornya penuh dengan nilai C atau D. So, agar memperoleh IP tinggi usahakan nilai lebih dari C untuk setiap mata kuliah yang SKS-nya tinggi. Pokoknya, jaga terus supaya nilai tetep aman dengan cara belajar, belajar, dan belajar.

Berpikir Kritis

Begitu merasakan kebebasan kuliah, semua sudah dianggap siap dengan berbagai macam teori-teori dan praktikum dari berbagai bidang ilmu. Teori yang nantinya akan “nyambung” dengan apa yang terjadi di dalam masyarakat. Sejatinya sih, mahasiswa dituntut untuk menganalisis apa yang terjadi di dunia nyata berdasarkan ilmu yang telah diperoleh saat kuliah. Oleh sebab itu, dunia perkuliahan kadang dianggap sebagai kawah candradimuka bagi para pemikir, peneliti, hingga aktivis sosial serta ilmuwan.

Di kelas, misalnya. Sangat terbuka untuk menggelar perdebatan yang berujung pada solusi atau kata sepakat. Kalau tidak sependapat dengan dosen, dengan sangat terbuka akan dibuka forum diskusi atau sekadar tanya jawab. Bahkan ada beberapa dosen yang membolehkan mahasiswanya meninggalkan kelas jika sudah mulai ngerasa kelasnya tidak sesuai dengan kehendaknya.

Tentu, semua ada resikonya, dengan aktif di kelas, akan diperoleh nilai tambahan untuk nilai akhir nanti. Buat yang tak mengejar nilai, tapi mengasah mengeluarkan pendapat, saat kuliah merupakan saat yang tepat. Soalnya, ada berbagai badan organisasi kemahasiswaan yang bisa jadi tempat latihan.

Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Permusyawaratan Mahasiswa (BPM), dan berbagai jenis UKM (kegiatan ekstra seperti ekskul di SMA) alias Unit Kegiatan Mahasiswa. Pilih saja jenis kegiatannya, makin banyak daripada di SMA dulu.

Nah, untuk itu di dunia kuliah kadang membuat mahasiswa terlena. Jika sudah keasyikan berorganisasi, kadang suka lupa sama tujuan akhir kuliah, yaitu cepat lulus. Jadi, aktif boleh, tapi soal lulus harus tetap diingat.

Omong-omong soal lulus, lengket banget sama yang namanya skripsi. Skripsi bisa dibilang adalah karya tulis yang didasari oleh penelitian sendiri sebagai mahasiswa yang berintektual (cieee!). Selama 4 tahun menggeluti buku, Internet, praktikum, dan terlibat proyek pemrograman di bidang yang diambil, diharapkan ada suatu masalah yang dapat diteliti sebagai tema skripsi, yang mesti harus aktual dan nyata terjadi.

Buat yang kuliah di bidang Manajemen Informatika (D3) disini, biasanya bentuknya bukan skripsi. Tapi membuat sebuah karya berupa aplikasi, sistem, desain, model, atau menerangkan sebuah proses kerja suatu sistem. Karya itu sering disebut sebagai Tugas Akhir (TA). TA juga harus diperkuat oleh makalah atau karya tulis yang menjelaskan proyek tadi. Jadi intinya, tetap saja harus membuat tulisan juga mirip skripsi.

Nongkrong

Tenang, jangan sampai stres menghadapi dunia kuliah. Cukup nikmati dengan suka ria. Dan jangan melupakan hal yang satu ini: nongkrong di lingkungan kampus!

Memang bedanya apa sama waktu SMA?

Bedanya tentu di masalah waktu. Kalau waktu SMA nongkrong adalah hal yang sangat susah karena terikat aturan dan waktu, di masa kuliah dijamin waktu nongkrong makin sering.

Contoh. Sebelum masuk kelas, bisa nongkrong dulu. Selesai kuliah, sambil nunggu waktu kuliah berikutnya, bisa nongkrong lagi. Pulang kuliah, pastinya bisa nongkrong lagi.

Nah, terus ngapain tuh kalau lagi nongkrong?

Biasanya, fashion jadi hal penting begitu masuk kampus saat ini. Maklum, sudah lepas dari seragam SMA! Mau mengenakan polo shirt, kaus, jins, oke saja. Berbagai aliran fashion bisa dipraktikkan di sini. Mulai dari casual, sporty sampai rocker boleh-boleh saja asalkan tetap sopan.

Tapi awas, biasanya kampus menerapkan peraturan kesopanan ketika kuliah, praktikum, ujian tengah dan akhir semester. Seperti wajib berkemeja, memakai jas almamater saat ujian akhir, dan tak boleh mengenakan celana pendek sepaha dan jins robek-robek baik pria maupun wanita.

Yang punya laptop atau komputer tablet dan berfasilitas perangkat nirkabel bisa berjam-jam nongkrong di kampus mengakses fasilitas Internet gratis khusus mahasiswa, bahkan yang aktif di organisasi bisa sampai lembur malam.

Meski demikian, gunakan waktu nongkrong untuk kegiatan positif seperti berorganisasi, belajar bareng, turut terlibat penelitian dan pengembangan sistem di kampus, training atau ikut pelatihan untuk mempertajam keahlian, dan sebagainya. Intinya jangan buang waktu dan kesempatan semasa kuliah.

Nah, buat yang baru masuk kuliah, siap-siap ya! Jangan sampai kebebasan di dunia perkuliahan ini membuat terlena dan mengorbankan tujuan semula. Semoga sukses!