Artikel

Sosialisasi Sertifikasi Dosen dan 7 Strategi Lulus dari Pakarnya

BALIKPAPAN – Senin, 18/6, Koordinator Perguruan Tinggi Swasta atau Kopertis Wilayah XI Kalimantan telah mengadakan Sosialisasi Sertifikasi Dosen bagi Dosen Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Kalimantan di Balikpapan. Acara diikuti kurang lebih 60 orang dosen PNS dpk dan dosen tetap yayasan PTS yang masuk dalam Data Serdos D1, berlangsung cepat dan lancar hingga sore hari.

Acara dibuka Prof. Dr. Ir. H. Sipon Muladi selaku Koordinator Kopertis XI Kalimantan, sekaligus menyampaikan materi seputar Serdos dan Strategi Studi Lanjut S2/S3 di Luar Negeri. Tidak hanya itu saja, yang menarik, lulusan Universitas Hamburg Jerman dan dosen Universitas Mulawarman Samarinda ini memberikan “wejangan” yang diambil dari tokoh perwayangan Bima dan Batara Bayu.

Sosialisasi Sertifikasi Dosen di Lingkungan Kopertis XI Kalimantan di Balikpapan, Senin, 18/6/2012. Dok. PSI.

Sesi berikutnya materi inti yang digadang-gadang banyak peserta adalah sosialisasi sertifikasi dosen itu sendiri, yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono. Mirip saat mengajar kuliah, assesor Dikti Kemdikbud dari Universitas Negeri Malang ini cukup rinci, jelas dan runtut menjelaskan tahapan-tahapan sertifikasi sehingga mudah dipahami peserta. Bahkan beberapa peserta terlihat cukup antusias dan beberapa kali menyalakan lampu kedip kamera digitalnya untuk memotret materi di layar presentasi.

7 Strategi Lulus Sertifikasi Dosen

Selain seputar pemantapan sistem sertifikasi dosen, Pak Djoko, begitu moderator memanggil, juga memberikan strategi, menguraikan masalah yang dihadapi saat mengisi deskripsi diri, memberikan contoh yang salah dan yang benar, hingga alasan pentingnya lulus sertifikasi. Dengan begitu, akan mudah diketahui dan dinilai apakah seorang dosen telah profesional atau tidak, bahkan terkenal “killer” (suka memberikan nilai rendah bahkan tidak lulus pada mahasiswanya) sekalipun.

Berikut ada 7 strategi mengisi portofolio agar lulus sertifikasi ala Pak Djoko.

  1. Kelola akun. Peserta harus selalu menjaga pin akunnya laiknya kartu ATM. Salah satu alasan untuk menjaga adalah agar data tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang dapat merugikan peserta. Termasuk diantaranya harus mengenali bagaimana sistem sertifikasi tersebut bekerja, check kembali lembar isian akun saat serah terima agar tidak terjadi kesalahan, dan bila itu terjadi agar segera dikembalikan untuk ditukar.
  2. Pelajari dan pahami 24 butir kisi-kisi deskripsi diri dan bobotnya dengan benar.
  3. Paparkan deskripsi diri. Tekankan pada contoh nyata yang mempunyai latar belakang pengalaman disertai contoh, bukan berupa wacana atau keinginan yang akan terjadi. Latar belakang pengalaman juga harus memerhatikan relevansi atau keterkaitan dengan bidang ilmu yang ditekuni. Hal ini ada hubungannya dengan 24 butir kisi-kisi deskripsi diri yang masing-masing harus disertai minimal 3 contoh nyata yang harus dijelaskan minimal 150 kata. Lebih penting lagi pelihara konsistensi keterkaitan antar butir dalam unsur-unsur yang disertakan.
  4. Tangkal kemiripan. Data terbanyak dosen tidak lulus sertifikasi dikarenkan gagal menyusun deskripsi diri karena mirip dengan yang lain. Untuk itu pahami betul kronologi proses verifikasi kemiripan saat menulis deskripsi diri. Proses verifikasi pertama kali dilakukan oleh program komputer atau sistem, setelah itu oleh manusia atau asesor, dengan cara memeriksa kata per susunan kata dalam kalimat. Tak perlu pertanyaan soal ditulis ulang dalam jawaban, cukup tulis jawabannya saja. Deskripsi diri hendaknya jangan normatif atau umum, tetapi harus unik dan spesifik disertai unsur-unsur konteks, waktu, kuantita, tempat dan sebagainya.
  5. Siapkan draf. Peserta diharapkan membuat lebih dulu berupa draf jawaban 24 butir kisi-kisi deskripsi diri. Ingat, sistem hanya menerima jenis data text (plain text), sehingga diminimalisir kode-kode program tersembunyi yang turut serta saat menyalinnya. Disarankan gunakan text editor seperti Notepad untuk Windows atau Gedit untuk Linux, bukan MS Word atau OpenOffice, sehingga tidak perlu gambar, tabel, atau simbol-simbol character khusus lainnya. Usahakan buatlah draf deskripsi diri ini jauh hari sebelumnya dalam beberapa hari, bukan sehari dua hari. Ingat pula harus ada keterkaitan antara Curriculum Vitae dengan deskripsi diri, meski tidak harus semuanya.
  6. Hadapi butir-butir sulit dengan konsistensi (misalnya keterkaitan antar butir kisi-kisi deskripsi diri), target kerja yang telah berhasil dilakukan, kendali diri (misal mampu dikritik dan tidak emosional, tetapi mampu menggunakan kritikan untuk mengembangkan diri, serta berikan 3 contoh pengalaman), tanggung jawab serta keteguhan pada prinsip. Perluas pengalaman agar jangan sampai kehabisan kata-kata saat menulis deskripsi diri.
  7. EVARES (External Validity Reinforcement Strategy). Pentingnya strategi penguatan dari luar kampus. Dosen akan sangat beruntung bila karyanya banyak sekali berada di lingkungan luar kampus, seperti misal pernah mendapatkan Hibah Bersaing, menulis paper atau jurnal nasional maupun internasional, pengakuan nasional atau internasional, HaKI, paten, dan karya-karya lain yang langsung bisa dilihat hasilnya melalui web. Perbanyak sumber-sumber eksternal web ini baik berupa situs pribadi yang berisi kegiatan belajar mengajar, situs dari perguruan tinggi, situs lokal, media massa, atau situs khusus serdos, untuk memudahkan asesor menilai kebenaran deskripsi diri.

Selamat berkarya! :-D