Artikel

10 Penyebab Rendahnya Inovasi di Indonesia

Inovasi di Indonesia dapat dikatakan amat rendah manakala dibandingkan dengan inovasi di negara-negara lain. Mengapa demikian? Berikut analisis singkat tentang rendahnya inovasi di tanah air menggunakan konsep menarik bernama “ten rules for stifling innovation” yang disusun oleh Rosabeth Ross Kanter dalam buku Leading for Innovation. Sepuluh hal ini adalah elemen-elemen klasik yang membuat inovasi menjadi sulit berkembang. Suatu analisis yang menarik sekaligus bisa membawa kita tersenyum getir.

Satu. Curiga pada ide-ide yang datang dari bawah. Indonesia adalah negara yang mewarisi banyak kultur zaman penjajahan, salah satunya adalah feodalisme yang tumbuh subur di masyarakat. Hal ini sangat terasa karena menjadi pimpinan atau atasan adalah suatu simbol kemapanan dari pada dilihat sebagai tanggung jawab untuk kemajuan. Sebagian pemimpin merasa bahwa keterpilihannya atau keberadaannya sebagai pemimpin haruslah dihormati dan ada semacam privelege bahwa pimpinan “tahu segalanya” dan tidak bisa didebat. Stigma ini relatif merata berada di masyarakat Indonesia dan menjadi sebab mengapa inovasi sulit berkembang.

Ilustrasi. oxfordprospect.co.uk

Dua. Ide-ide dari bawahan harus melalui persetujuan atasannya masing-masing untuk naik ke tingkat berikutnya hingga akhirnya sampai ke pimpinan puncak. Hal ini juga sangat menghalangi munculnya ide-ide cemerlang yang datang dari bawah karena dihadang oleh birokrasi yang rumit. Indonesia sendiri sangat terkenal dengan kondisi masyarakat yang birokratis, tidak hanya di kalangan pemerintahan, tetapi juga hampir di setiap bentuk organisasi yang ada. Bahkan ada semacam pameo bahwa “jika bisa sulit, kenapa harus dipermudah?”.

Tiga. Ide-ide harus dikritik dan ditantang dulu antar bagian sebelum diterima. Dalam suatu organisasi, hal ini bisa berarti positif namun bisa juga negatif. Ide yang didiskusikan terlebih dahulu bisa difilter agar bisa muncul hasil akhir berupa inovasi yang lebih siap dan matang. Namun dalam banyak kasus, proses semacam ini justru menghambat dan mematikan banyak ide cemerlang. Terlalu banyak “orang biasa” dalam diskusi semacam itu yang tidak memiliki visi jauh kedepan sehingga orang-orang semacam ini akan biasanya malah mematikan ide-ide brilian. Para pemilik idepun akan kurang bersemangat menyampaikan idenya karena tahu akan mendapat banyak kritikan yang melemahkan.

Empat. Pimpinan harus kritis dan pelit dengan pujian untuk menjaga wibawa. Hal ini juga merupakan masalah klasik di Indonesia karena sebagian besar pimpinan naik ke jabatannya karena senioritas dan masih bermental konservatif. Wibawa adalah segalanya bagi seorang pimpinan. Anak buah yang terlalu kreatif justru akan dikuatirkan mengancam kewibawaannya sebagai pemimpin.

Lima. Memperlakukan laporan atas adanya masalah sebagai suatu kesalahan, semacam ketakutan akan adanya kesalahan. Hal ini juga berkorelasi positif dengan suatu prinsip berorganisasi di Indonesia yang sering disebut sebagai ABS (asal bapak senang). Prinsip ini sering menjadi guyonan namun tanpa sadar justru itulah yang sebenarnya mendominasi kehidupan berorganisasi di Indonesia. Tugas utama bawahan adalah bekerja keras membuat atasan senang. Tentu saja hal tersebut adalah hal positif, namun dalam banyak kasus yang terjadi adalah bahwa kesalahan yang terjadi tidak dilaporkan apa adanya dan malah menjadi sumber pembusukan dalam organisasi. Tanpa informasi yang jelas mengenai keadaan riil organisasi, maka inovasi akan sulit tumbuh.

Enam. Segala sesuatu harus terkontrol, tidak ada peluang bagi segala rencana yang belum terbukti berhasil. Ini juga salah satu bentuk kelemahan sebagian besar pimpinan dan kultur organisasi di negeri kita. Semua pihak terobsesi dengan keteraturan dan kontrol yang ketat. Segala sesuatu yang berada diluar pagar atau sedikit aneh dan menyimpang dari garis normal akan dicurigai dan dimatikan karena akan merusak keteraturan.

Tujuh. Keputusan reorganisasi atau perubahan kebijakan dibicarakan tertutup dan serba rahasia, dan diumumkan secara mendadak sehingga semua pihak terkejut. Fenomena ini juga adalah suatu hal yang biasa di Indonesia. Pimpinan melakukannya karena mereka begitu menikmati “power” yang dimiliki dan ingin semua orang tahu bahwa kekuatan yang dimiliki pimpinan itu absolut. Hal semacam ini dilakukan juga untuk memberi sinyal pada bawahan bahwa mereka tidak bisa macam-macam dengan pimpinan.

Delapan. Informasi tidak bisa dikeluarkan dan disebar seenaknya, harus betul-betul diperiksa sebelum dikeluarkan. Ini adalah paham konservatif bahwa “information is power” yang dijalankan secara kurang bijak.Pimpinan menganggap bahwa salah satu power yang mereka miliki adalah informasi, ketika informasi tersebut dibuka dan disebarkan secara bebas, maka mereka akan kehilangan salah satu sumber power mereka. Para pimpinan ini lupa bahwa informasi yang hanya disimpan oleh segelintir orang justru akan membuat suatu organisasi menjadi “powerless”. Hal ini juga sangat sering kita lihat dan temui di berbagai organisasi di Indonesia.

Sembilan. Serahkan pada pimpinan dibawah untuk mengeksekusi keputusan-keputusan yang bersifat “mengancam” bagi bawahan seperti pemecatan, pemindahan pegawai, dll. Hal ini untuk memperlihatkan power seorang pimpinan, bahwa pimpinan harus dihargai dan bisa melakukan apa saja yang bisa mengancam keberadaan para bawahan dalam organisasi. Fenomena ini merupakan hal yang jamak karena begitu besarnya kekuatiran para pimpinan akan “ancaman” dari bawah terhadap kepemimpinan mereka.

Sepuluh. Pimpinan adalah orang yang paling tahu mengenai bisnis yang dijalani, karena itu merekalah yang ditunjuk atau berhak menjadi pimpinan. Di Indonesia hal ini juga merupakan suatu hal yang sangat sering kita temui. Pimpinan merasa paling tahu segala hal, bawahan hanya sekedar mengikuti dan patuh menjalankan segala kebijakan dan keputusan pimpinan. Ini juga berakar dari warisan feodalisme dalam masyarakat kita.

Demikianlah 10 hal yang ternyata sangat stereotipe bangsa kita, hal-hal yang menghambat proses inovasi.

Penulis: Mohamad Adriyanto
Sumber: madriyanto.blogspot.com